Langsung ke konten utama

Zona Nyaman atau Zona Aman?

Assalamu'alaikum para readers..
Nah Alhamdulillah hari ini berkesempatan untuk ngeblog lagi.. Ya karena mungkin saat ini lagi berusaha agar diri sendiri produktif disaat wabah corona dan mengharuskan tetap di rumah aja.
Gak nyaman mungkin terlalu lama berada di rumah karena pada dasarnya saya adalah sseorang yang lebih sering beraktivitas di luar rumah daripada di dalam rumah makanya jadilah menghabiskan waktu dengan ngajar di rumah, memberi tugas, memeriksa tugas, baca buku dan nge blog ini salah satunya. Kenapa nge blog? berharap apa yang telah dibaca bisa ditulis dan bermanfaat untuk orang lain.

 Ngomong - ngomong soal nyaman, kali ini saya ingin membahas mengenai zona nyaman dan zona aman. Apa sih zona nyaman dan zona aman? yuk simak kita bahas satu persatu.

picture from google


Zona nyaman adalah tingkat energi membuat kita merasa pas dengan diri kita (Steve Warton, 2005). Menurut Alvy (2019), zona nyaman adalah sebuah keadaan dimana kita merasa nyaman dengan keadaan tersebut. Sedangkan zona aman menurut kbbi adalah suatu keadaan dimana kita bebas dari bahaya atupun gangguan. Sering kali zona nyaman dan zona aman ini berkaitan, ada yang berkata zona nyaman belum tentu di zona aman, sedangkan zona aman sudah pasti di zona nyaman. Lantas apakah keduanya baik ?

Terlepas dari baik , saya juga tidak tahu persis karena saya tidak mendalami ilmu psikologi,tapi hanya sedikit bertukar pengalaman atau cerita. Saya pernah membaca sebuah buku dan diceritakan oleh dosen saya juga terkait cerita tentang "Hiu Kecil". Jadi begini ceritanya ada seorang nelayan Jepang yang ingin mempertahankan agar ikan yang ia tangkap tetap dalam keadaan segar. Karena ikan yang berada di dekat pantai sudah sangat sedikit, jadi ia harus mencari ikan ke perairan yang sangat jauh dari pantai, akibatnya ikan yang ia tangkap dan dibawa ke daratan sudah dalam keadaan yang tidak segar, sehingga harga ikan pun jatuh. Untuk mengatasi keadaan tersebut, paguyuban nelayang mengusahakan lemari pendingin yang dibawa di atas perahu, agar ikan tersebut beku dan tidak busuk. Usaha ini pun tidak memuaskan pelanggan penikmat ikan segar, mereka mengatakan cita rasa ikannya telah berkurang karena sudah mati dan dibekukan, akibatnya harga ikan pun tetap jatuh. Langkah berikutnya adalah dengan membawa tangki - tangki besar yang diberikan kondisi ikan tetap nyaman ketika melaut. Ikan yang telah terjaring dimasukan ke dalam tangki dalam keadaan hidup namun berada sangat berdesakan karena yang ikan dimasukkan dalam jumlah banyak. Setelah sampai di daratan dan ikan tersebut dijual pelanggan tetap tidak puas, karena ikan yang dijual dalam keadaan lemas dan dinilai cita rasanya berbeda ketika dalam kedaan segar. Nelayan Jepang tersebut pun kembali berpikir bagaimana  supaya ikan yang ditangkap tetap hidup dan segar. Akhirnya nelayan tersebut menemukan ide yang luar biasa. Ketika nelayan melaut, mereka tetap membawa tangki, namun jumlah ikan yang dimasukkan ke dalam tangki lebih sedikit. Uniknya lagi, setelah semua ikan dimasukkan ke tangki dan siap dibawa ke pantai, nelayan tersebut memasukkan ikan hiu kecil ke dalam tangki. Ikan hiu tersebut memang memakan ikan - ikan yang ada di dalam tangki, namun tidak banyak. Sementara ikan - ikan lain lari dikejar hiu kecil yang berada dalam tangki. Alhasil, ikan - ikan tersebut tetap berada dalam kondisi siaga dan takut yang tanpa disadari telat sampai di pantai. Pelanggan pun merasa puas memperoleh ikan yang tetap hidup dan segar.

Dari kisah hiu kecil tersebut ikan berada dalam kondisi nyaman dan aman ketika berada dalam tangki pertama, namun pelanggan tetap tidak merasa puas, kenapa? karena ikan tersebut tidak memperoleh tantangan  untuk bertahan hidup. Sama seperti zona nyaman dan zona aman tadi, apakah zona tersebut baik? Menurut saya baik atau tidaknya bergantung ke dalam suatu kondisi dimana yang dapat menilai adalah diri sendiri. Ada seorang pekerja, ia sudah bekerja di perusahaan tersebut dalam waktu lebih dari 5 tahun, ia mendapatkan gaji yang sesuai, pekerjaan yang tidak terlalu menekan dirinya, dan teman - teman kantor yang bersahabat serta kedudukan yang bisa dibilang terpandang. Apakah ia berada di zona nyaman dan zona aman? Jawabannya adalah ya, tapi ia terus melakukan hal serupa sampai tidak terasa ia sudah bekerja selama 10 tahun, dan kemudian ia merasakan kejenuhan yang luar biasa, mengapa demikan? Padahal ia sudah berada di zona nyaman dan zona amannya? Jawabannya karena tidak ada hiu kecil tadi dalam pekerjaannya.

Ada yang pernah bilang "keluar lah dari zona nyaman", setelah saya baca buku karya Alvi Syahrin saya tidak sepenuhnya setuju dengan pernyataan tersebut. Karena sejatinya ketika kita keluar dari zona nyaman kita hanya mencari suatu kenyamanan baru? Lantas apakah kita benar - benar keluar dari zona nyaman padahal kita hanya mencari suatu kenyamanan baru. Balik lagi ke kasus pekerja tadi, apakah ia harus keluar dari pekerjaannya? Jawabannya tidak tapi ia hanya perlu mencari "hiu kecil" dalam pekerjaannya. Kita perlu "hiu kecil" dalam menjalani kehidupan, "hiu kecil" itulah yang disebut tantangan. Tantangan sesungguhnya membuat seseorang semakin matang dan dewasa dalam perkembangan mental. Tantangan ini juga yang memuat hidup lebih dinamis dan tidak menjenuhkan. Tantangan yang dilakukan dengan baik akan memberikan pembelajaran berharga bagi kehidupan seseorang.

Dipenghujung tulisan ini, saya berpesan carilah hiu kecil dalam hidup kalian, boleh berada dalam zona nyaman dan zona aman tapi ingat jangan sampai terlena terlalu lama.

Sekian tulisan dari saya, semoga dapat bermanfaat untuk para readers..
Wassalam..

Sumber :
Marpaung, Parlindungan. 2006. Setengah Isi Setengah Kosong. Bandung : MQS Publishing
Syahrin, Alvi. 2019. Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa - apa. Jakarta : Gagas Media
Warton, Steve, 2005. How to Stop That Bully. Yogyakarta : Kanisius

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HAI, APA KABAR?

picture from google “Hai, apa kabar? Aku rindu.” Sungguh rasanya ingin sekali ku mengirim pesan itu ke dirimu, tapi ku tak sanggup. Luka itu masih terlalu perih, kesedihan itu masih tetap ada, dan mengikhlaskanmu masih terasa terlalu sulit bagiku. Aku tak tahu bagaimana dengan dirimu, apakah kau merasakan hal yang sama dengan diriku, atau hanya aku saja yang merasakannya. Aku mencoba melupakannya untuk menyembuhkan luka itu, tapi malah ku semakin mengingat apa yang telah kita lewati bersama. Terlalu banyak kenangan itu. Dan kau masuk terlalu dalam di hatiku. Atau aku yang terlalu berharap padamu. Ah entahlah, aku tak paham dengan semua yang terjadi. Aku tak tahu apa yang terakhir kau sampaikan kepadaku itu jujur atau tidak. Aku sungguh tak tahu. Apakah benar itu jawaban atas doamu, atau justru itu jawaban atas doaku. Aku sungguh tak tahu. Mungkin pertemuan dan kedekatan kita beberapa waktu belakangan adalah sebuah kesalahan. Terlalu banyak aturan-Nya yang kita langgar. Sehingga D...

LEMAHNYA IMAN

  picture from google Pernah gak sih kalian merasa, kok hidup gua gini – gini aja ya? Atau merasa kok hidup dia banyak banget ya Allah kasih privilege sedangkan gua nggak? Atau pikiran – pikiran lainnya yang bisa buat efek negative justru di hidup kalian. Yups pasti semua orang pernah merasa seperti itu. Tapi tahukah kalian, kalau pikiran seperti itu hadir dari lemahnya iman kita sama Allah. Astagfirullah. Sebelum ke bahasan selanjutnya, saya disclaimer dulu, kalau saya menuliskan ini bukan berarti iman saya sudah kuat atau saya sudah paling taqwa. Sungguh tidak sama sekali seperti itu, tapi saya tuliskan hal ini justru buat jadi pengingat buat saya pribadi. Oke kita langsung ke topic kali ini. Dan mohon maaf kalo agak sedikit curcol, heheh Jadi beberapa bulan silam saya merasa hidup saya seperti kehilangan arah karena satu dan lain hal, yang tak perlu saya ceritakan disini. Singkat cerita saya pun merasa bingung terkait ‘apa tujuan hidup saya sebenarnya’ padahal kalo saja...

Tentang Gunung

Gunung Merbabu (29/12/2016) Katanya kalau mau tau sifat seseorang, maka ajaklah dia mendaki gunung. Bagiku gunung lebih dari sekedar ingin tahu sifat orang lain, tapi juga untuk mengetahui sifat kita yang sebenarnya. Ada pepatah yang mengatakan bahwa seseorang akan terlihat sifat aslinya saat menghadapi kesulitan, tapi mendaki gunung bukan berarti kita hanya mempersulit diri. Walaupun banyak yang mempertanyakan “ngapain sih lu, naik gunung capek – capek trus ntar turun lagi, bahkan bisa mangancam nyawa lu sendiri juga?” Ya pertanyaan tersebut tidaklah salah, kalau dipikir pakai logika mungkin benar saja bahwa mendaki gunung terkesan tidak berfaedah, tapi bagiku tidak demikian. Bagiku gunung bukan hanya sebagai tempat rekreasi, tapi juga sebagai tempat ‘lari’, ya tempat melarikan diri dari segala kepenatan, segala kejenuhan, segala rutinitas, bahkan sampai menjadi tempat menyembuhkan sakit hati. Bagiku gunung bukan sebuah tempat untuk pergi, melainkan tempat untuk pulang, tempat kita me...