Langsung ke konten utama

Jangan Jadi Remaja, Jadilah Pemuda!

Assalamualaikum kawan...
Kali ini saya hanya mau sedikit sharing sama kalian yang khususnya masih remaja.. hehehe *termasuk saya saat ini*


Sebelumnya ilmu ini saya dapat dari senpai (pelatih karate) saya. *loh ini latihan karate atau training motivasi?*
Nah jadi ceritanya, waktu itu tepatnya hari jumat, memang sudah rutinitas sih saya latihan karate.
Tapi waktu itu yang dateng hanya 3 orang, dan yang masih sekolah saya sama teman saya satu orang yang lainnya udah pada kuliah.



Nah gak lama latihan kita istirahat dan ternyata istirahat itu kebablasan, hehehe
Nah pas istirahat itu kita ngomongin banyak hal termasuk hal-hal yang lagi ngetrend yaitu "TOMCAT".
Terus saya nyambung-nyambung ke iklan gitu. Sampai kak danur (senpai) berkata "jadilah pemuda jangan jadi remaja" . Kata-kata itu terdengar keren sekali bagi saya..
Sampai di rumah saya memikirkan makna kata-kata itu, dan makna yang saya dapat adalah..

kita harus jadi pemuda karena:
- pemuda penuh dengan semangat
- pemuda penuh dengan harapan dan cita-cita
- pemida penuh dengan ide-ide cemerlang
- dan pemuda pantang menyerah

sedangkan remaja:
- remaja itu labil
- remaja itu penuh dengan penggalauan
- remaja itu penuh dengan rasa ingin tahu dan sok tahu
- dan biasanya remaja itu alay *korban stand up comedy* hehe

Yah mungkin ini bisa jadi sedikit motivasi dan inspirasi bagi orang-orang yang membacanya dan khususnya bagi para pemuda-pemuda yang ada di mana pun.
sekian dan wassalam..

Inspirated by kak Danur Qahari

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HAI, APA KABAR?

picture from google “Hai, apa kabar? Aku rindu.” Sungguh rasanya ingin sekali ku mengirim pesan itu ke dirimu, tapi ku tak sanggup. Luka itu masih terlalu perih, kesedihan itu masih tetap ada, dan mengikhlaskanmu masih terasa terlalu sulit bagiku. Aku tak tahu bagaimana dengan dirimu, apakah kau merasakan hal yang sama dengan diriku, atau hanya aku saja yang merasakannya. Aku mencoba melupakannya untuk menyembuhkan luka itu, tapi malah ku semakin mengingat apa yang telah kita lewati bersama. Terlalu banyak kenangan itu. Dan kau masuk terlalu dalam di hatiku. Atau aku yang terlalu berharap padamu. Ah entahlah, aku tak paham dengan semua yang terjadi. Aku tak tahu apa yang terakhir kau sampaikan kepadaku itu jujur atau tidak. Aku sungguh tak tahu. Apakah benar itu jawaban atas doamu, atau justru itu jawaban atas doaku. Aku sungguh tak tahu. Mungkin pertemuan dan kedekatan kita beberapa waktu belakangan adalah sebuah kesalahan. Terlalu banyak aturan-Nya yang kita langgar. Sehingga D...

LEMAHNYA IMAN

  picture from google Pernah gak sih kalian merasa, kok hidup gua gini – gini aja ya? Atau merasa kok hidup dia banyak banget ya Allah kasih privilege sedangkan gua nggak? Atau pikiran – pikiran lainnya yang bisa buat efek negative justru di hidup kalian. Yups pasti semua orang pernah merasa seperti itu. Tapi tahukah kalian, kalau pikiran seperti itu hadir dari lemahnya iman kita sama Allah. Astagfirullah. Sebelum ke bahasan selanjutnya, saya disclaimer dulu, kalau saya menuliskan ini bukan berarti iman saya sudah kuat atau saya sudah paling taqwa. Sungguh tidak sama sekali seperti itu, tapi saya tuliskan hal ini justru buat jadi pengingat buat saya pribadi. Oke kita langsung ke topic kali ini. Dan mohon maaf kalo agak sedikit curcol, heheh Jadi beberapa bulan silam saya merasa hidup saya seperti kehilangan arah karena satu dan lain hal, yang tak perlu saya ceritakan disini. Singkat cerita saya pun merasa bingung terkait ‘apa tujuan hidup saya sebenarnya’ padahal kalo saja...

Tentang Gunung

Gunung Merbabu (29/12/2016) Katanya kalau mau tau sifat seseorang, maka ajaklah dia mendaki gunung. Bagiku gunung lebih dari sekedar ingin tahu sifat orang lain, tapi juga untuk mengetahui sifat kita yang sebenarnya. Ada pepatah yang mengatakan bahwa seseorang akan terlihat sifat aslinya saat menghadapi kesulitan, tapi mendaki gunung bukan berarti kita hanya mempersulit diri. Walaupun banyak yang mempertanyakan “ngapain sih lu, naik gunung capek – capek trus ntar turun lagi, bahkan bisa mangancam nyawa lu sendiri juga?” Ya pertanyaan tersebut tidaklah salah, kalau dipikir pakai logika mungkin benar saja bahwa mendaki gunung terkesan tidak berfaedah, tapi bagiku tidak demikian. Bagiku gunung bukan hanya sebagai tempat rekreasi, tapi juga sebagai tempat ‘lari’, ya tempat melarikan diri dari segala kepenatan, segala kejenuhan, segala rutinitas, bahkan sampai menjadi tempat menyembuhkan sakit hati. Bagiku gunung bukan sebuah tempat untuk pergi, melainkan tempat untuk pulang, tempat kita me...