Langsung ke konten utama

TENTANG CINTA

picture from google
Cinta sebuah kata yang hanya terdiri dari lima huruf, tapi memiliki sejuta makna. Mungkin kalau kita bahas cinta tak akan pernah ada kata selesai. Cinta sebuah kata yang selalu menarik untuk dibahas dan diperbincangkan. Cinta yang hanya dengannya dapat merubah seseorang, yang hanya dengannya dapat membuat kegaduhan, yang hanya dengannya bahkan dapat membunuh nyawa seseorang, tapi sungguh dengannya pula juga bisa membuat seorang bersemangat, yang dengannya pula membuat seorang rela berkorban, yang hanya dengannya pula dapat membuat seorang berjuang lebih besar.

Cinta banyak yang mengartikan sebuah rasa kasih sayang antar lawan jenis, yang membutuhkan 
pengorbanan, pembuktian, serta perjuangan bersama. Tapi sungguh makna cinta lebih dari itu, terlebih kalau kita baca buku – buku tentang sejarah Rasulullah. Cinta bukan hanya diartikan secara sempit tentang hubungan antara lawan jenis, cinta juga bisa diartikan rasa kasih dan sayang kepada keluarga, sahabat, teman, bahkan harta benda. Tapi lagi – lagi itu masih dalam makna yang sempit dan sementara. Cinta sejati adalah cinta kita kepada Sang Pemilik Cinta, dan cinta yang sejati telah dicontohkan oleh insan terbaik dan paling mulia yang memiliki cinta yakni Rasulullah.

Sungguh kita sangatlah beruntung menjadi umat Rasulullah, insan paling mulia yang memiliki cinta luar biasa, bukan hanya kepada RabbNya, bukan hanya kepada keluarganya, bukan hanya kepada sahabatnya, bukan hanya kepada umatnya, bahkan Rasulullah masih memberikan cinta kepada musuh – musuhnya. Kalau dibandingkan dengan kita, yang hanya memberikan cinta kepada orang – orang terkasih dan terdekat saja, kalau sama musuh mungkin kita akan menghardik, bahkan mensumpah serapahinya, tapi tidak dengan Rasulullah. Masih ingatkah tentang perjuangan dakwah Rasulullah di Thaif? Ketika itu perjuangan dakwah Rasulullah di Makkah sedang mengalami masa yang sulit, akhirnya Rasulullah mendatangi kota Thaif, letaknya lumayan jauh dari kota Makkah. Rasulullah mendatangi para pemimpin Thaif dan mengajak pemimpin tersebut kepada Allah, tapi bukan mendapatkan dukungan, Rasulullah justru mendapat cacian dari ketiga pemimpin tersebut. Lalu setelah tiga hari Rasulullah menyusur tiap sudut Thaif, mengetuk berbagai pintu, dan menawarkan Islam kepada siapapun yang beliau temui, namun Rasulullah malah mendapatkan pengusiran bahkan dilempari batu oleh penduduk Thaif. Allah SWT pun tak tega melihat kekasihNya disakiti, kemudian Allah mengutus Jibril, maka tampaklah Jibril dengan memenuhi ufuk. “Sesungguhnya Rabbmu telah mengetahui apa yang dikatakan dan diperbuat oleh kaummu terhadapmu. Maka Dia mengutus Malaikat penjaga gunung ini untuk kau perintahkan sesukamu.”

Lalu malaikat penjaga gunung menimpali, “Ya Rasulullah, perintahkanlah aku, maka akan aku balikkan gunung Akhsyabain ini agar menimpa dan menghancurkan mereka yang telah ingkar, mendustakan, mengusir, menista, dan menyakitimu.” Kalau kita yang ditawari seperti itu, pasti dengan lantang akan menjawab “IYA HANCURKAN SAJA MEREKA.” Tapi inilah sungguh luar biasanya cinta Rasulullah, beliau justru menjawab “Tidak, sungguh aku diutus sebagai pembawa rahmat, bukan penyebab adzab.” Dan betapa mulianya cinta Rasulullah, beliau justru mendoakan kelak dari rahim – rahim penduduk Thaif akan lahir keturunan yang mengesakan Allah dan tak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun. Bayangkan sudah dihina, disakiti, dicaci, bahkan dilempari batu sampai kening nya berdarah, Rasulullah justru mendoakan kebaikan kepada penduduk Thaif tersebut.

Lagi – lagi kita harusnya bersyukur menjadi umat Rasullah, karena Rasulullah sangat mencintai umatnya. Dijelaskan dalam sebuah riwayat, suatu ketika saat kembali dari sebuah kunjungan, Rasulullah menangis. Kemudian para sahabat yang melihatnya bertanya “Apa yang membuatmu menangis ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab “Aku rindu saudara – saudaraku.” Para sabahat pun kembali bertanya “bukankah kami ini saudara – saudaramu ya Rasulullah?” Rasulullah pun menjawab “tidak, kalian adalah sahabat – sahabatku. Saudara – saudaraku adalah mereka yang akan datang setelah aku dan mereka percaya kepadaku tanpa melihat aku.” MasyaAllah banget kan cinta Rasulullah kepada umatnya. Ada lagi bukti cinta Rasulullah kepada umatnya, bahkan saat beliau sakaratul maut, disaat menghadapi sakitnya sakaratul maut, Rasulullah berkata “betapa sakitnya sakaratul maut ini, maka timpakan seluruh rasa sakit umatku kepada ku saja.” Allahumma sholli ala Muhammad. Begitu tulus dan luar biasa cinta Rasulullah, bahkan beliau juga menyimpan doa dan syafaatnya untuk umatnya di hari pembalasan kelak. Semoga kita termasuk salah satu umat yang dirindukan Rasulullah serta mendapatkan syafaat dari Rasulullah. Allahumma sholli ala Muhammad. Sungguh begitu banyak bukti cinta Rasulullah kepada kita dan amat sangat panjang bahasannya kalau kita bahas seluruhnya.

Dalam sebuah hadits yang pernah disampaikan oleh Anas bin Malik, “ Sesungguhnya seorang akan bersama dengan apa yang dicintai.” Maka kalau saja cinta kepada orang lain bisa membuat kita sakit hati dan kecewa, sungguh cinta kepada Allah SWT dan Rasulullah Muhammad tidak akan pernah membuat kita sakit hati dan kecewa, kadang kita saja yang tidak peka bahwa Allah SWT dan Rasulullah begitu mencintai kita. So buatlah cinta kita lebih berfaedah lagi, buatlah kita bucin hanya kepada Allah dan Rasulullah. Allahumma sholli ala Muhammad.


Sumber : 
Fillah, Salim A. 2014. Lapis – lapis Keberkahan. Yogyakarta : Pro U Media
Isa, Sayf Muhammad. 2018. The Amazing Rasulullah. Jakarta : Ghazi
www. Islampos.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HAI, APA KABAR?

picture from google “Hai, apa kabar? Aku rindu.” Sungguh rasanya ingin sekali ku mengirim pesan itu ke dirimu, tapi ku tak sanggup. Luka itu masih terlalu perih, kesedihan itu masih tetap ada, dan mengikhlaskanmu masih terasa terlalu sulit bagiku. Aku tak tahu bagaimana dengan dirimu, apakah kau merasakan hal yang sama dengan diriku, atau hanya aku saja yang merasakannya. Aku mencoba melupakannya untuk menyembuhkan luka itu, tapi malah ku semakin mengingat apa yang telah kita lewati bersama. Terlalu banyak kenangan itu. Dan kau masuk terlalu dalam di hatiku. Atau aku yang terlalu berharap padamu. Ah entahlah, aku tak paham dengan semua yang terjadi. Aku tak tahu apa yang terakhir kau sampaikan kepadaku itu jujur atau tidak. Aku sungguh tak tahu. Apakah benar itu jawaban atas doamu, atau justru itu jawaban atas doaku. Aku sungguh tak tahu. Mungkin pertemuan dan kedekatan kita beberapa waktu belakangan adalah sebuah kesalahan. Terlalu banyak aturan-Nya yang kita langgar. Sehingga D...

LEMAHNYA IMAN

  picture from google Pernah gak sih kalian merasa, kok hidup gua gini – gini aja ya? Atau merasa kok hidup dia banyak banget ya Allah kasih privilege sedangkan gua nggak? Atau pikiran – pikiran lainnya yang bisa buat efek negative justru di hidup kalian. Yups pasti semua orang pernah merasa seperti itu. Tapi tahukah kalian, kalau pikiran seperti itu hadir dari lemahnya iman kita sama Allah. Astagfirullah. Sebelum ke bahasan selanjutnya, saya disclaimer dulu, kalau saya menuliskan ini bukan berarti iman saya sudah kuat atau saya sudah paling taqwa. Sungguh tidak sama sekali seperti itu, tapi saya tuliskan hal ini justru buat jadi pengingat buat saya pribadi. Oke kita langsung ke topic kali ini. Dan mohon maaf kalo agak sedikit curcol, heheh Jadi beberapa bulan silam saya merasa hidup saya seperti kehilangan arah karena satu dan lain hal, yang tak perlu saya ceritakan disini. Singkat cerita saya pun merasa bingung terkait ‘apa tujuan hidup saya sebenarnya’ padahal kalo saja...

Tentang Gunung

Gunung Merbabu (29/12/2016) Katanya kalau mau tau sifat seseorang, maka ajaklah dia mendaki gunung. Bagiku gunung lebih dari sekedar ingin tahu sifat orang lain, tapi juga untuk mengetahui sifat kita yang sebenarnya. Ada pepatah yang mengatakan bahwa seseorang akan terlihat sifat aslinya saat menghadapi kesulitan, tapi mendaki gunung bukan berarti kita hanya mempersulit diri. Walaupun banyak yang mempertanyakan “ngapain sih lu, naik gunung capek – capek trus ntar turun lagi, bahkan bisa mangancam nyawa lu sendiri juga?” Ya pertanyaan tersebut tidaklah salah, kalau dipikir pakai logika mungkin benar saja bahwa mendaki gunung terkesan tidak berfaedah, tapi bagiku tidak demikian. Bagiku gunung bukan hanya sebagai tempat rekreasi, tapi juga sebagai tempat ‘lari’, ya tempat melarikan diri dari segala kepenatan, segala kejenuhan, segala rutinitas, bahkan sampai menjadi tempat menyembuhkan sakit hati. Bagiku gunung bukan sebuah tempat untuk pergi, melainkan tempat untuk pulang, tempat kita me...